Bansa Atjeh untuk Merdeka:
1. Iman in Islam, percaya bahwa dengan kuasa Allah, Merdeka nyan akan mungkin terjadi, hana ragu. Maka bek sagai djioh ngon Allah ngon ibadah;
2. Bangga dan rasa percaya diri dan tanyoe in shaa Allah mampu dan hana pernah merasa rendah diri dari bangsa2 laen;
3. Knowledge and halal wealth are important dan adalah alat untuk membantu Rakyat dan perjuangan;
4. Apapun nyang berkaitan dengan Nama penjajah adalah musuh yang tidak patut kita sokong dan bersatu. Bek meungaku droe pejuang, buet meukat rukok atawa jamu indon, atawa gadoh deungo jaipongan indon, atawa galak meukawen ngon jawa indon. Nyan wajeb hindari, baro timbul sikap percaya diri, mampu, dan independent;
5. Siapa yang bersatu atau menjadi bahagian kaum penjajah itu bukan bahagian dari kita
Sunday, February 18, 2018
Wednesday, January 3, 2018
Pane kawoe neuk?
Pane kawo neuk
lon wo dari dayah.
Pubut neuk?
Lon jakdeungo surah
So gure neuk.
Tgk. Abu chik Dolah.
Pu geupeugah neuk?
1. Aurat han jeut leumah.
2. Pakaian bek deuh ulah
3. Rahsia gop bek tapeuhah
4 . Tamarit beuna faedah
5. Urusan ngen gop tapeumudah
6. Nafsu bek seurakah
7. Sifeut bek amarah
8. Bak but get beu bagah
9. Hak gop bek tareupah
10. Peubut suroh peujioh teugah
Uronyo cuman nyan ayah.
Masya allah
Aneuk meutuwah
Hana rugo keupeurayek kah
Uronyo kakapeuruno ayah.
lon wo dari dayah.
Pubut neuk?
Lon jakdeungo surah
So gure neuk.
Tgk. Abu chik Dolah.
Pu geupeugah neuk?
1. Aurat han jeut leumah.
2. Pakaian bek deuh ulah
3. Rahsia gop bek tapeuhah
4 . Tamarit beuna faedah
5. Urusan ngen gop tapeumudah
6. Nafsu bek seurakah
7. Sifeut bek amarah
8. Bak but get beu bagah
9. Hak gop bek tareupah
10. Peubut suroh peujioh teugah
Uronyo cuman nyan ayah.
Masya allah
Aneuk meutuwah
Hana rugo keupeurayek kah
Uronyo kakapeuruno ayah.
Tuesday, December 19, 2017
5 Pilar Penjajah
PARA KOLONIAL BIASANYA HANCURKAN 5 PILAR KEKAYAAN & KEHIDUPAN RAKYAT/BANGSA YANG DIDUDUKI DAN DIJAJAH
Oleh Gembala Dr. Ndumma Socratez S.Yoman
1. Pendahuluan
Strategi dan siasat para penjajah ialah ia harus melumpuhkan (paralized) dan menghancurkan (destroyed) pilar-pilar penyangga kehidupan sebuah bangsa yang diduduki dan dijajah. Setelah fondasi kehidupan itu dilumpuhkan & dihancurkan, para penjajah dengan leluasa & gemilang menguasai seluruh penduduk asli yang telah kehilangan pijakan, pegangan dan pedoman hidup.
2. Lima pilar yang biasa dihancurkan
2.1. Kebudayaan
Salah satu nilai hakiki yang biasa dihancurkan para penjajah adalah nilai kebudayaan. Di dalamnya bahasa dan sejarah. Para penjajah mengatakan bahasa asli itu tidak baik dan sejarahmu itu melawan negara. Di sekolah dan dimana-mana diajarkan bahasa dan sejarah kolonial. Penduduk yang dijajah dipaksa untuk menerima bahasa dan sejarah para kolonial.
Oleh Gembala Dr. Ndumma Socratez S.Yoman
1. Pendahuluan
Strategi dan siasat para penjajah ialah ia harus melumpuhkan (paralized) dan menghancurkan (destroyed) pilar-pilar penyangga kehidupan sebuah bangsa yang diduduki dan dijajah. Setelah fondasi kehidupan itu dilumpuhkan & dihancurkan, para penjajah dengan leluasa & gemilang menguasai seluruh penduduk asli yang telah kehilangan pijakan, pegangan dan pedoman hidup.
2. Lima pilar yang biasa dihancurkan
2.1. Kebudayaan
Salah satu nilai hakiki yang biasa dihancurkan para penjajah adalah nilai kebudayaan. Di dalamnya bahasa dan sejarah. Para penjajah mengatakan bahasa asli itu tidak baik dan sejarahmu itu melawan negara. Di sekolah dan dimana-mana diajarkan bahasa dan sejarah kolonial. Penduduk yang dijajah dipaksa untuk menerima bahasa dan sejarah para kolonial.
2.2. Pendidikan
Para kolonial juga menyelenggarakan pendidikan/sekolah tapi misi utama ialah memuluskan sejarah dan bahasa serta seluruh nilai2 baru yang mereka import atau bawa dari luar. Pendidikan yang dimiliki dari turun-temurun dalam penduduk asli yang dijajah itu benar-benar disingkirkan dan dihancurkan. Kolonial membuat penduduk asli tidak punya peradaban sebelum mereka datang (memang kurang ajar).
2.3. Kesehatan
Para kolonial juga membuat penduduk asli tidak punya kesehatan yang baik. Memang kelihatan dibangun rumah-rumah sakit, tapi sering ditempatkan para dokter, suster dan mantri yang mengamankan misi kolonial. Proses pembiaran dilakukan dan biaya obat dibuat mahal dengan bersandiwara pada resep-resep dokter. Penduduk tdk mampu membeli dan lain-lain.
2.4. Ekonomi
Pilar utama lain yang biasa dihancurkan para penjajah ialah roda perekonomian. Roda perekonomian penduduk asli yg sdg dijajah dgan sistematis dihancurkan. Penduduk asli dibuat tidak berdaya.
Ketika penduduk distigma tidak bisa/belum mampu, pada saat itu potensi, talenta, karunia dan kreativitas penduduk asli benar-benar dihancurkan. Hanya orang-orang hebat sj yang biasa bangkit dan lawan stigma itu.
2.5. Stigma-stigma
Penduduk Asli yang diduduki dan dijajah dibuat tidak berdaya karena para kolonial menggunakan peluru-peluru jitu, yaitu: orang asli tdk mampu, tidak sanggup, belum bisa dan belum ada ketrampilan, malas, tidak tekun dan dll.
Pertanyaannya ialah apakah sebelum penjajah datang menduduki dan menjajah kita, siapa yang membuat kebun, pagar, honai, perahu, dan sogok sagu? Apkah orang pendatang yang penjajah ini?
Jadi, Indonesia sebagai bangsa kolonial yang sedang menduduki dan menjajah bangsa-bangsa lain telah menghancurkan dan melumpuhkan lima pilar ini dengan gemilang atas keamanan nasional dan jargon baru adalah Patung Firaun NKRI.
Kesimpulannya.
"SEKARANG KAMI SUDAH SEKOLAH".
Tuesday, December 12, 2017
Saturday, December 9, 2017
Tuesday, November 21, 2017
Saturday, November 18, 2017
4 Desember
Jelang 4 Desember, Ganti Profil Facebook Anda!
SEBAGAI wujud perjuangan bertahap tanpa kekerasan (non violence), para netter Aceh di alam maya menjelang tanggal 4 Desember ini dianjurkan dengan mengganti foto profil akun Facebooknya mereka masing-masing.
Ada beberapa alternatif yang diberikan diantaranya menukar dengan gambar bendera Bulan Bintang, angka 4 besar dengan tulisan Desember, huruf angka 41 bersama gambar deklarator AM Tgk Hasan Tiro atau mengganti dengan motif profil Facebook "Sambôt Milad Atjèh" selama seminggu seperti akun Facebook "Cut Mutia Nazifa"
Pilihan lain, juga bisa digantikan dengan gambar logo ASNLF dan pita dengan tulisan "Acheh-Sumatra National Liberation Front". Untuk semua opsi ini bisa diunduh gambarnya di internet.
Aksi damai ini sebagai bentuk dukungan moral sebagai solidaritas anak bangsa Aceh yang tersebar diseluruh penjuru dunia. Bagi yang memasang bendera bulan bintang bertujuan untuk menunjukan bukti bahwa bendera tersebut adalah bendera Aceh Merdeka, bukan malahan dengan menghinakannya menjadi bendera salah satu provinsi di NKRI (Negara Kolonial Republik Indonesia).
Seperti tahun sebelumnya, anjuran ini efektif membantah klaim sepihak para kaki tangan Indonesia yang membajak semua simbol dan lambang perjuangan Aceh Merdeka dengan tujuan menghalangi untuk mendirikan kembali kedaulatannya (Successor State).
Sebagaimana diketahui, dunia Internasional tahu bahwa bendera Bulan Bintang adalah simbol dari pergerakan perjuangan Aceh Merdeka dengan tujuan untuk berdirinya negara Aceh yang berdaulat, dan hal ini juga sesuai dengan telah diterimanya bendera tersebut sebagai bendera perjuangan ASNLF dalam UNPO (Unrepresented Nations and Peoples Organization).
Mengganti profil di sosial media ini sama seperti gerakan demonstrasi damai. Dalam konteks Aceh, tidak ada salahnya bagi warga Aceh yang sering online di alam maya dapat meluangkan waktunya beberapa detik saja untuk mengganti profil gambar Facebook sebagai bentuk memperingati 4 Desember di alam maya yaitu hari pendeklarasian kembali kemerdekaan Aceh.
Media sosial ini adalah salah satu alternatif sebagai ruang untuk menyampaikan pendapat dengan demokratis dan tentu saja secara damai. Jangan pernah berharap kepada media cetak di Aceh yang sudah menjadi corong penguasa lokal dan militer.
Tangan Jakarta baik itu yang menyuarakan aspirasi kepentingan militer dan sipil awalnya masuk melalui media cetak dengan membentuk opini bahwa institusi militer bagian dari Muspida dan Muspika. Forum musyawarah yang ada susupan militer tersebut pada akhirnya masuk ke seluruh elemen pranata sosial di Aceh yang hakikatnya bernama 'Dwi Fungsi ABRI era Reformasi'.
Dari sinilah media cetak berhasil menggiring opini publik bahwa militer pelanggar HAM berhak ada di segala lini seperti ikut andil dalam koridor permasalahan politik sipil.
Oleh karena itu, media sosial adalah solusi lain melawan kezaliman penguasa beserta gerombolan pendukungnya di Aceh. Kita tidak boleh pasrah apalagi putus asa dengan keadaan karena perjuangan tersebut masih sangat panjang. Semuanya tergantung kepada kita untuk menggunakan waktu se-efisein mungkin dengan tidak menghabiskan waktu untuk berdebat kusir (dawa buta) di alam maya yang efeknya dapat memicu konflik horizontal.
Alangkah berguna bila waktu tersebut digunakan untuk mengcopy berita dan visual kepada setiap orang tidak dikenal sehingga 'dakwah' penerangan mengenai perjuangan Aceh telah sampai padanya. Dari situ kita harap dapat merekrut kader baru berpendidikan yang dapat membantu pemikiran progresif dan pergerakan revolusioner kedepan.
Sekali lagi, himbauan agar mengganti profil Facebook dengan berbagai alternatif menjelang 4 Desember nanti sekiranya bisa diteruskan ke semua kontak sosial media karena bersifat damai, demokratis dan juga sebagai salah satu wujud solidaritas perjuangan yang belum selesai.
SEBAGAI wujud perjuangan bertahap tanpa kekerasan (non violence), para netter Aceh di alam maya menjelang tanggal 4 Desember ini dianjurkan dengan mengganti foto profil akun Facebooknya mereka masing-masing.
Ada beberapa alternatif yang diberikan diantaranya menukar dengan gambar bendera Bulan Bintang, angka 4 besar dengan tulisan Desember, huruf angka 41 bersama gambar deklarator AM Tgk Hasan Tiro atau mengganti dengan motif profil Facebook "Sambôt Milad Atjèh" selama seminggu seperti akun Facebook "Cut Mutia Nazifa"
Pilihan lain, juga bisa digantikan dengan gambar logo ASNLF dan pita dengan tulisan "Acheh-Sumatra National Liberation Front". Untuk semua opsi ini bisa diunduh gambarnya di internet.
Aksi damai ini sebagai bentuk dukungan moral sebagai solidaritas anak bangsa Aceh yang tersebar diseluruh penjuru dunia. Bagi yang memasang bendera bulan bintang bertujuan untuk menunjukan bukti bahwa bendera tersebut adalah bendera Aceh Merdeka, bukan malahan dengan menghinakannya menjadi bendera salah satu provinsi di NKRI (Negara Kolonial Republik Indonesia).
Seperti tahun sebelumnya, anjuran ini efektif membantah klaim sepihak para kaki tangan Indonesia yang membajak semua simbol dan lambang perjuangan Aceh Merdeka dengan tujuan menghalangi untuk mendirikan kembali kedaulatannya (Successor State).
Sebagaimana diketahui, dunia Internasional tahu bahwa bendera Bulan Bintang adalah simbol dari pergerakan perjuangan Aceh Merdeka dengan tujuan untuk berdirinya negara Aceh yang berdaulat, dan hal ini juga sesuai dengan telah diterimanya bendera tersebut sebagai bendera perjuangan ASNLF dalam UNPO (Unrepresented Nations and Peoples Organization).
Mengganti profil di sosial media ini sama seperti gerakan demonstrasi damai. Dalam konteks Aceh, tidak ada salahnya bagi warga Aceh yang sering online di alam maya dapat meluangkan waktunya beberapa detik saja untuk mengganti profil gambar Facebook sebagai bentuk memperingati 4 Desember di alam maya yaitu hari pendeklarasian kembali kemerdekaan Aceh.
Media sosial ini adalah salah satu alternatif sebagai ruang untuk menyampaikan pendapat dengan demokratis dan tentu saja secara damai. Jangan pernah berharap kepada media cetak di Aceh yang sudah menjadi corong penguasa lokal dan militer.
Tangan Jakarta baik itu yang menyuarakan aspirasi kepentingan militer dan sipil awalnya masuk melalui media cetak dengan membentuk opini bahwa institusi militer bagian dari Muspida dan Muspika. Forum musyawarah yang ada susupan militer tersebut pada akhirnya masuk ke seluruh elemen pranata sosial di Aceh yang hakikatnya bernama 'Dwi Fungsi ABRI era Reformasi'.
Dari sinilah media cetak berhasil menggiring opini publik bahwa militer pelanggar HAM berhak ada di segala lini seperti ikut andil dalam koridor permasalahan politik sipil.
Oleh karena itu, media sosial adalah solusi lain melawan kezaliman penguasa beserta gerombolan pendukungnya di Aceh. Kita tidak boleh pasrah apalagi putus asa dengan keadaan karena perjuangan tersebut masih sangat panjang. Semuanya tergantung kepada kita untuk menggunakan waktu se-efisein mungkin dengan tidak menghabiskan waktu untuk berdebat kusir (dawa buta) di alam maya yang efeknya dapat memicu konflik horizontal.
Alangkah berguna bila waktu tersebut digunakan untuk mengcopy berita dan visual kepada setiap orang tidak dikenal sehingga 'dakwah' penerangan mengenai perjuangan Aceh telah sampai padanya. Dari situ kita harap dapat merekrut kader baru berpendidikan yang dapat membantu pemikiran progresif dan pergerakan revolusioner kedepan.
Sekali lagi, himbauan agar mengganti profil Facebook dengan berbagai alternatif menjelang 4 Desember nanti sekiranya bisa diteruskan ke semua kontak sosial media karena bersifat damai, demokratis dan juga sebagai salah satu wujud solidaritas perjuangan yang belum selesai.
Subscribe to:
Posts (Atom)








